banner 728x250

Kebajikan: Fondasi Karakter untuk Kehidupan Bermakna di Era Digital

banner 120x600
banner 468x60
Spread the love

Oleh: Dr. Ipong Hembing Putra, Ketua Umum PITI ( Persaudaraan Islam Tionghoa Indonesia )

Batam,pikiranrakyatnusantara.com, 9 Desember 2025 – Di tengah hiruk-pikuk dunia digital yang serba cepat dan penuh godaan, konsep kebajikan muncul sebagai kompas moral yang tak tergantikan. Kebajikan bukan sekadar istilah filosofis kuno, melainkan sikap batin yang mendorong kita untuk bertindak benar, jujur, dan welas asih secara konsisten. Ini adalah kualitas moral yang mengarahkan manusia ke potensi terbaiknya, melawan kefasikan yang seringkali merajalela di media sosial dan transaksi virtual.

banner 325x300

Secara esensial, kebajikan mencakup watak baik seperti kebijaksanaan, keberanian, keadilan, dan kesederhanaan. Ia tercermin dalam perbuatan nyata: menolong sesama tanpa pamrih, menepati janji meski sulit, atau bersikap sabar di tengah tekanan. Berbeda dengan kebaikan sesaat yang bisa dipengaruhi situasi, kebajikan bersifat berkelanjutan—sebuah disposisi hati yang tahan uji, menghasilkan dampak positif jangka panjang bagi diri dan lingkungan.

Dalam filsafat Barat, Aristoteles menggambarkannya sebagai jalan tengah menuju eudaimonia, atau kebahagiaan sejati melalui pengembangan sifat-sifat mulia. Di Timur, konsep ini selaras dengan kebaikan hati dalam tradisi Konfusianisme, yang menekankan harmoni sosial melalui etika pribadi. Dalam konteks agama, Islam menjelaskan kebajikan melalui Al-Birru (kebaikan) dalam Al-Qur’an, yang meliputi iman, amal saleh seperti membantu fakir miskin dan yatim, menepati janji, serta kesabaran dalam ujian. Demikian pula, Kristen memuliakan tujuh kebajikan surgawi—kesucian, iman, harapan, kasih—sebagai penangkal dosa mematikan.

Di era digital saat ini, kebajikan semakin relevan. Teknologi memudahkan penyebaran informasi, tapi juga amplifikasi kebohongan, intoleransi, dan eksploitasi. Sebagai Ketua Umum Persaudaraan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), saya sering melihat bagaimana kebajikan bisa jadi benteng: seorang programmer yang jujur menolak korupsi kode, atau influencer yang sabar menyebarkan konten edukatif daripada sensasional. Tanpa kebajikan, kemajuan teknologi justru mempercepat kehancuran moral.

Singkatnya, kebajikan adalah landasan karakter yang mendorong kita menjadi pribadi lebih baik, membawa kebaikan bagi orang lain dan dunia. Bukan sekali-kali, tapi secara mendalam dan terus-menerus. Mari kita tanamkan ini dalam diri dan komunitas— karena hanya dengan kebajikan, kita bisa bangun masyarakat yang adil dan berkelanjutan.

Reporter : Red

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *