Bitung, Minggu 15 Februari 2026 – Rukun Tasumaro Kota Bitung kembali menegaskan perannya sebagai simpul budaya sekaligus penggerak ekonomi pesisir melalui penyelenggaraan Lomba Racing Pakura di Pantai Dodik, Kelurahan Wangurer,
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian menuju puncak Upacara Adat Tulude yang digelar pada Minggu (15/2/2026).
Tulude merupakan tradisi sakral masyarakat Nusa Utara yang sarat nilai syukur dan doa dalam menyambut awal tahun.
Tradisi ini bukan sekadar seremoni budaya, tetapi juga momentum mempererat persaudaraan serta memperkuat identitas masyarakat kepulauan, khususnya di wilayah perbatasan.
Ajang adu cepat perahu tradisional Pakura tersebut diikuti sekitar 15 tim, termasuk peserta dari Kawio, wilayah perbatasan Indonesia–Filipina.
Kehadiran tim dari kawasan terluar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjadi simbol persatuan dan semangat kebangsaan di beranda terdepan negeri. Tim Kawio bahkan berhasil meraih gelar juara umum dalam perlombaan tersebut.
Bagi Rukun Tasumaro, perpaduan olahraga tradisional dan ritual budaya bukan sekadar agenda tahunan, melainkan strategi konkret memperkuat identitas masyarakat pesisir sekaligus mendorong konsolidasi ekonomi rakyat.
Kegiatan ini dinilai mampu memberikan dampak langsung bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta pedagang lokal yang berjualan di sekitar kawasan Pantai Dodik.
Acara tersebut turut dihadiri Danramil Kota Bitung Markus Tilaar, S.Th., Lurah Wangurer Sitti Mariam Lariha, S.ST., Panglima Brigade Nusa Utara Indonesia Kota Bitung Mario Mamuntu, serta Panglima Adat Nusa Utara Indonesia Ical Mamuntu, bersama sejumlah tokoh masyarakat dan tamu undangan lainnya.
Dalam rangkaian kegiatan, dilaksanakan pula prosesi pemotongan kue adat sebagai simbol rasa syukur dan kebersamaan.
Pemotongan kue adat perempuan dilakukan oleh Marsha Mahaling, mahasiswa semester VI Politeknik Negeri Manado, sementara pemotongan kue adat laki-laki dilakukan oleh Ketua Adat Yekonia Nanangko.
Koordinator Pelaksana Kegiatan, Sartika Manuel, menegaskan bahwa integrasi Pakura dan Tulude mencerminkan wajah asli masyarakat pesisir Bitung.
“Rukun Tasumaro ingin menjadikan momentum ini sebagai ruang silaturahmi lintas wilayah, ruang budaya, sekaligus ruang pemberdayaan ekonomi.
Tulude adalah identitas masyarakat Nusa Utara, dan Pakura adalah denyut kehidupan nelayan. Ketika keduanya dipadukan, di situlah kekuatan pesisir lahir,” ujarnya.
Menurut Sartika, kegiatan ini bukan hanya tentang kompetisi, tetapi juga komitmen menjaga warisan leluhur serta membuka peluang ekonomi bagi UMKM dan pedagang lokal yang turut meramaikan kawasan Pantai Dodik.
Ke depan, Rukun Tasumaro memproyeksikan Racing Pakura sebagai agenda tahunan yang berkelanjutan guna mendorong kebangkitan ekonomi pesisir Kota Bitung, sejalan dengan penguatan UMKM, perdagangan pasar rakyat, serta peningkatan kesejahteraan nelayan.
Lebih dari sekadar perlombaan, Racing Pakura Pantai Dodik Wangurer menjadi simbol kolaborasi budaya dan ekonomi.
Kegiatan ini membuktikan bahwa kekuatan pesisir terletak pada persatuan, pelestarian tradisi, serta keberpihakan kepada masyarakat hingga ke tapal batas negeri.
Harto


















