Karawang,pikiranrakyatnusantara.com-Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Kalangsari terus memperkuat komitmennya dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dan keselamatan pasien. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan edukasi dan pelatihan kegawatdaruratan internal yang berfokus pada tata laksana penanganan kasus gigitan ular berbisa (envenomasi) bagi seluruh tenaga medis dan paramedis di lingkungan Puskesmas Kalangsari, Kecamatan Rengasdengklok.
Kegiatan ini merupakan implementasi nyata dari hasil Rapat Koordinasi Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang bersama Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang digelar pada Kamis, 30 Juli 2026, di Hotel Mercure Karawang. Dalam forum tersebut, seluruh fasilitas kesehatan tingkat pertama didorong untuk segera memperkuat kapasitas sumber daya manusia dalam menghadapi berbagai kondisi kegawatdaruratan, termasuk penanganan kasus gigitan ular berbisa yang masih kerap ditemukan di wilayah agraris.
Pelatihan dipimpin langsung oleh Plt. Kepala Puskesmas Kalangsari, Harnis Indriani, S.ST., MM, dengan menghadirkan dr. Maulana Agies Riadi sebagai fasilitator medis. Seluruh dokter, perawat, dan bidan mengikuti sesi ilmiah sekaligus praktik lapangan guna menyamakan standar pelayanan sesuai pedoman klinis nasional berbasis bukti (evidence-based medicine).
Plt. Kepala Puskesmas Kalangsari, Harnis Indriani, S.ST., MM, menegaskan bahwa peningkatan kompetensi tenaga kesehatan merupakan langkah strategis dalam memberikan pelayanan yang cepat, tepat, dan berkualitas kepada masyarakat.
“Pelatihan ini menjadi tindak lanjut atas arahan Kementerian Kesehatan RI dan Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang. Tenaga medis dan paramedis adalah garda terdepan dalam menyelamatkan pasien. Karena itu, seluruh tim harus memiliki pemahaman dan keterampilan yang sama agar mampu mengambil keputusan klinis secara cepat dan tepat. Dalam kondisi darurat, setiap detik sangat menentukan keselamatan jiwa pasien,” ujarnya.
Menurut Harnis, wilayah Rengasdengklok yang didominasi area persawahan dan lahan pertanian memiliki potensi cukup tinggi terhadap interaksi masyarakat dengan ular berbisa. Kondisi tersebut menuntut kesiapsiagaan seluruh tenaga kesehatan agar mampu memberikan penanganan awal secara optimal sebelum pasien dirujuk ke rumah sakit.
Dalam sesi materi, dr. Maulana Agies Riadi menjelaskan pentingnya penerapan metode imobilisasi total sebagai pertolongan pertama pada korban gigitan ular berbisa. Ia menekankan bahwa tindakan awal yang benar dapat memperlambat penyebaran racun sekaligus meningkatkan peluang keselamatan pasien.
“Masih banyak anggapan keliru di masyarakat mengenai penanganan gigitan ular. Padahal, racun ular menyebar melalui sistem limfatik yang dipicu oleh pergerakan otot, bukan melalui pembuluh darah sebagaimana mitos yang berkembang. Karena itu, langkah paling tepat adalah melakukan imobilisasi sempurna menggunakan bidai untuk meminimalkan pergerakan bagian tubuh yang terkena gigitan hingga pasien mendapatkan penanganan lanjutan dan, bila diindikasikan, pemberian Serum Anti Bisa Ular (SABU) di rumah sakit,” jelas dr. Agies.
Tidak hanya menerima materi teori, seluruh peserta juga mengikuti sesi simulasi praktik meliputi teknik pembalutan elastis statis, pemasangan bidai, pemantauan tanda-tanda vital, hingga penerapan algoritma triase pada pasien dengan kasus envenomasi.
Melalui pelatihan ini, Puskesmas Kalangsari juga ingin memperkuat perannya sebagai pusat edukasi kesehatan masyarakat. Para tenaga kesehatan diharapkan mampu memberikan pemahaman yang benar kepada warga sekaligus meluruskan berbagai tindakan yang masih sering dilakukan saat terjadi gigitan ular, seperti menyayat luka, mengisap racun, maupun memasang torniket terlalu kuat, yang justru berisiko memperparah kondisi pasien.
Dengan penguatan kompetensi yang dilakukan secara berkelanjutan, Puskesmas Kalangsari optimistis mampu menghadirkan pelayanan kegawatdaruratan yang semakin profesional, responsif, adaptif, dan berorientasi pada keselamatan pasien, sehingga masyarakat di wilayah Kalangsari dan sekitarnya memperoleh pelayanan kesehatan yang cepat, tepat, serta sesuai standar medis nasional.
(Abah Rudi)


















