Indramayu,pikiranrakyatnusantara.com-Di tengah derasnya arus kuliner modern, sebuah panganan tradisional dari Desa Sambimaya, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu, masih mampu mempertahankan daya tariknya. Namanya uwi legit, makanan berbahan dasar umbi yang diolah secara tradisional dengan cita rasa manis alami, tekstur kenyal sekaligus lembut saat disantap.
Salah satu sosok yang hingga kini konsisten mempertahankan pengolahan uwi legit tersebut adalah Ibu Pimred DH, istri dari Pimred media pikiranrakyatnusantara.com sekaligus warga asli Desa Sambimaya. Sejak 2017, ia menekuni keterampilan mengolah uwi legit yang diwariskan secara turun-temurun di lingkungan masyarakat perdesaan.
Bagi DH, mengolah uwi bukan sekadar aktivitas berdagang. Di balik sepiring uwi legit yang siap disantap, terdapat proses panjang yang membutuhkan ketelatenan, pengalaman dan keberanian menghadapi tantangan dalam pengolahannya.
Uwi yang diperoleh dari petani membutuhkan waktu sekitar tujuh bulan sejak ditanam hingga memasuki masa panen. Setelah dipanen, proses pengolahan tidak bisa dilakukan sembarangan. Umbi harus dicuci dan dibersihkan dengan teliti, kemudian melalui proses perendaman sebelum dipotong dan dimasak hingga matang sempurna.
Salah satu tantangan terbesar justru muncul ketika proses pencucian dan perendaman. Getah uwi dapat menimbulkan rasa gatal sehingga pengolah harus memiliki teknik dan ketahanan tersendiri agar proses pembersihan berlangsung maksimal.
Setelah melalui tahapan tersebut, uwi kemudian dipotong-potong dan dimasak dengan menjaga kestabilan suhu api. Kesalahan dalam proses memasak dapat memengaruhi tekstur dan cita rasa. Karena itu, pengalaman menjadi modal penting untuk menghasilkan uwi legit dengan kualitas terbaik.
“Kalau hasil pengolahan hingga masak maksimal, uwi ini biasa saya dagangkan. Empat jam bisa habis 10 kilogram. Alhamdulillah hasilnya menggiurkan, namun penuh perjuangan. Kalau bukan bakat, tentu saya tidak akan lancar mengelola ini,” jelasnya, Minggu (9/8/2026).
Popularitas uwi legit di wilayah Kecamatan Juntinyuat menunjukkan bahwa makanan tradisional masih memiliki tempat tersendiri di tengah masyarakat. Rasa manis alami, tekstur kenyal dan lembut menjadi karakter yang membuat panganan tersebut tetap dicari.
Lebih dari sekadar makanan, uwi legit juga menggambarkan hubungan erat antara petani, pengolah dan konsumen. Petani membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk menghasilkan uwi, sementara pengolah membutuhkan keterampilan khusus untuk mengubahnya menjadi panganan siap santap.
Di sinilah nilai sebuah kuliner tradisional menjadi semakin penting. Sebab, resep dan teknik pengolahan yang diwariskan dari generasi ke generasi tidak selalu tertulis dalam buku. Sebagian justru hidup melalui pengalaman, kebiasaan dan keterampilan tangan para pelakunya.
Kisah DH menjadi gambaran bahwa kearifan kuliner lokal tidak harus kalah oleh modernisasi. Dengan ketekunan dan kemampuan membaca selera masyarakat, panganan sederhana dari desa pun mampu menjadi sumber penghasilan sekaligus menjaga warisan kuliner agar tidak hilang ditelan zaman.
Uwi legit Sambimaya akhirnya bukan sekadar soal rasa. Di balik manis dan lembutnya, tersimpan cerita tentang petani, ketekunan, tradisi, perjuangan menghadapi proses pengolahan, serta sebuah keterampilan lokal yang terus dipertahankan sejak 2017 hingga hari ini.


















