banner 728x250

Bukan Sekadar Servis AC, Pelatihan BLK Karawang Mulai Bidik Teknologi Mobil Listrik

banner 120x600
banner 468x60
Spread the love

Karawang,pikiranrakyatnusantara.com-Upaya meningkatkan kompetensi tenaga kerja di Kabupaten Karawang mulai diarahkan mengikuti perkembangan teknologi otomotif. Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Karawang bersama Politeknik Negeri Bandung (Polban) mendorong alumni Balai Latihan Kerja (BLK) agar tidak hanya mengandalkan keterampilan lama, tetapi mampu membaca peluang usaha baru.

Langkah tersebut diwujudkan melalui pelatihan servis dan perbaikan sistem pengondisian udara (AC) mobil yang digelar di BLK Karawang, Rabu (12/8/2026).

banner 325x300

Sebanyak 16 peserta mengikuti pelatihan tersebut. Mayoritas merupakan alumni BLK Karawang yang sebelumnya telah memiliki pengalaman maupun usaha servis AC, khususnya AC rumah.

Kepala UPTD BLK Disnakertrans Kabupaten Karawang, Agung Jauhari, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari kerja sama BLK Karawang dengan Polban yang telah berjalan sekitar lima tahun.

“Untuk kegiatan dengan Polban Bandung ini sudah bekerja sama selama lima tahun. Kali ini bentuk kerja samanya melalui pelatihan AC mobil, termasuk bantuan alat dan pembelajaran kepada alumni BLK,” ujar Agung.

Menurut Agung, pemilihan alumni sebagai peserta bukan tanpa alasan. Mereka yang sudah memiliki usaha diharapkan dapat meningkatkan keterampilan sekaligus memperluas bidang layanan yang selama ini dijalankan.

“Alumni BLK ini kita panggil, khususnya yang sudah memiliki wirausaha, agar dapat meningkatkan keterampilan sekaligus penghasilannya,” katanya.

Selama ini, sebagian peserta lebih banyak menangani servis AC rumah. Pelatihan AC mobil pun menjadi peluang untuk menambah keahlian sekaligus membuka pasar baru.

“Jadi ada pengetahuan baru yang bisa dikembangkan dan mudah-mudahan dapat menambah penghasilan,” tutur Agung.

Bukan Hanya Bisa Memperbaiki, Peserta Didorong Paham Dampak Refrigeran

Menariknya, pelatihan tersebut tidak hanya membahas bagaimana memperbaiki AC mobil. Peserta juga diperkenalkan dengan teknologi refrigeran yang dinilai lebih ramah terhadap lingkungan.

Narasumber dari Polban, Prof. Ir. Sumeru, M.T., Ph.D., mengatakan pelatihan dirancang untuk peserta dengan berbagai tingkat pengalaman.

Peserta yang sudah berpengalaman diharapkan mampu meningkatkan kemampuan teknis dan melakukan servis sesuai prosedur. Sementara peserta yang masih pemula dapat menjadikan keterampilan tersebut sebagai modal untuk membuka usaha.

“Yang sudah memiliki pengalaman diharapkan bisa meningkatkan skill dan melakukan tindakan servisasi dengan benar. Sedangkan yang belum berpengalaman, setelah mengikuti pelatihan ini diharapkan bisa membuka bengkel servis AC mobil sendiri,” jelas Sumeru.

Salah satu materi yang diperkenalkan adalah refrigeran R1234yf. Menurut Sumeru, refrigeran tersebut memiliki nilai global warming potential (GWP) di bawah satu dan telah banyak digunakan pada kendaraan di Eropa serta Amerika Serikat.

Kondisi tersebut berbeda dengan refrigeran R134a yang masih banyak digunakan di Indonesia dan memiliki GWP sekitar 1.430.

Sumeru menjelaskan, sistem AC mobil memiliki potensi mengalami kebocoran karena kendaraan terus mengalami getaran ketika digunakan.

“AC mobil itu relatif mudah bocor karena ada getaran dari mesin. Ketika refrigeran bocor, sama saja kita membuang zat yang dapat membuat bumi semakin panas,” ungkapnya.

R1234yf sendiri sebenarnya sudah tersedia di Indonesia, namun penggunaannya masih terbatas, salah satunya pada kendaraan kelas premium.

Sumeru menilai penggunaan refrigeran yang lebih ramah lingkungan berpotensi berkembang apabila didukung produksi secara massal sehingga harga menjadi lebih terjangkau.

“Kalau diproduksi secara massal, kemungkinan harganya bisa sama dengan freon biasa. Karena itu harus ada upaya dari pemerintah untuk menganjurkan penggunaan refrigeran yang lebih ramah lingkungan,” ucapnya.

Dari AC Mobil Konvensional, BLK Karawang Mulai Bersiap Masuk Era Kendaraan Listrik

Kerja sama BLK Karawang dan Polban juga menunjukkan bahwa kebutuhan pelatihan tenaga kerja mulai bergeser mengikuti perkembangan industri otomotif.

Dalam kegiatan tersebut, Polban turut memberikan bantuan trainer unit atau perangkat praktik kepada BLK Karawang untuk mendukung proses pembelajaran peserta.

Tidak berhenti pada kendaraan berbahan bakar minyak, materi pelatihan ke depan ditargetkan berkembang menuju teknologi kendaraan listrik.

Sumeru mengatakan, jika tahun ini peserta mempelajari sistem AC mobil konvensional, maka tahun depan pihaknya menargetkan pelatihan sudah masuk pada teknologi AC kendaraan listrik.

“Kalau tahun ini kita fokus pada AC mobil berbahan bakar minyak, insyaallah tahun depan kita akan memberikan pelatihan AC mobil listrik,” pungkasnya.

Program ini menjadi sinyal bahwa lulusan BLK tidak cukup hanya memiliki keterampilan yang dibutuhkan saat ini. Mereka juga dituntut mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi.

Bagi pemerintah daerah, pelatihan tersebut diharapkan bukan sekadar menghasilkan tenaga kerja yang siap bekerja, tetapi juga mencetak alumni yang mampu menjadi wirausahawan dan membuka lapangan pekerjaan baru.

Dengan demikian, kerja sama Disnakertrans Karawang dan Polban diharapkan dapat menjembatani kebutuhan industri, perkembangan teknologi otomotif, serta peluang usaha masyarakat di tengah perubahan menuju era kendaraan listrik.

(Abah Rudi)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *