Indramayu,pikiranrakyatnusantara.com-Minyak jelantah yang selama ini identik dengan limbah dapur mulai mendapat “kehidupan kedua” di Kilang Balongan. PT Pertamina Patra Niaga (PPN) Kilang Balongan kini melakukan uji coba pengolahan Used Cooking Oil (UCO) atau minyak jelantah menjadi produk bernilai tinggi, termasuk green gasoline, Propylene dan LPG melalui Unit Residue Catalytic Cracking (RCC).
Terobosan tersebut menjadi bagian dari inovasi hijau Pertamina dalam mendukung transisi energi nasional sekaligus mengembangkan konsep ekonomi sirkular melalui pemanfaatan limbah menjadi energi (waste to energy).
Minyak jelantah merupakan minyak goreng bekas yang telah digunakan berulang kali untuk kebutuhan memasak, baik di rumah tangga maupun industri. Limbah tersebut mengalami perubahan komposisi dan dapat mengandung senyawa yang berpotensi mencemari lingkungan apabila dibuang secara sembarangan.
Melalui pemanfaatan sebagai bahan baku energi, limbah minyak jelantah justru diarahkan menjadi sumber nilai baru. Program tersebut menjadi bagian dari Proyek Strategis Nasional Biohidrokarbon 2026 di lingkungan Pertamina.
Keseriusan pengembangan proyek ini terlihat saat Wakil Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga, Taufik Aditiyawarman, bersama Direktur Operasi Kilang Didik Bahagia, meninjau langsung Unit RCC, pertangkian dan sejumlah fasilitas yang digunakan untuk penerimaan serta pengolahan minyak jelantah, Rabu (9/9/2026).
Dalam peninjauan tersebut, Taufik menyampaikan bahwa hingga 9 September 2026, injeksi minyak jelantah ke Unit RCC untuk diolah menjadi green gasoline telah mencapai 5 persen.
Angka tersebut menjadi salah satu tahapan penting dalam pengujian teknologi pemanfaatan UCO di Kilang Balongan. Dengan kapasitas pengolahan Unit RCC mencapai 83 MBSD, keberhasilan uji coba secara berkelanjutan berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap produksi green gasoline sekaligus membuka peluang pengembangan ekonomi sirkular di sekitar wilayah operasional Pertamina.
Namun, Taufik menegaskan bahwa keberhasilan uji coba tidak boleh hanya dilihat dari besarnya persentase injeksi.
Menurutnya, keselamatan dan keandalan operasi harus tetap menjadi prioritas utama. Selain itu, seluruh data plant test, termasuk kualitas produk yang dihasilkan, harus dicatat secara lengkap dan akurat sebagai dasar evaluasi pengembangan proyek selanjutnya.
“Mari kita kawal ujicoba produk rendah karbon ini hingga selesai dan berhasil, guna membangun ekonomi sirkular melalui pemanfaatan minyak jelantah sebagai bahan baku energi, dan proyek ini secara tidak langsung juga berdampak pada penurunan impor Crude Oil,” ungkap Taufik.
Ia menambahkan, inovasi tersebut merupakan kontribusi nyata Pertamina dalam mendukung Asta Cita Presiden Republik Indonesia, terutama dalam mewujudkan swasembada energi serta memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional menuju Indonesia yang berkelanjutan.
Sementara itu, Direktur Operasi Kilang PT Pertamina Patra Niaga, Didik Bahagia, memberikan apresiasi kepada seluruh perwira Kilang Balongan dan pihak-pihak yang terlibat dalam proses pengembangan hingga tercapainya milestone tersebut.
“Pengolahan perdana minyak jelantah di RU Balongan ini merupakan langkah nyata transformasi bisnis kilang dalam mendukung transisi energi dan pengembangan energi berkelanjutan. Harapannya proyek ini berhasil dan bisa direplikasi di unit-unit Kilang lainnya,” terang Didik.
Pemanfaatan UCO di Kilang Balongan pada akhirnya bukan sekadar mengubah limbah menjadi produk bernilai ekonomi. Di balik proses tersebut terdapat agenda yang lebih besar: mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku fosil, menekan potensi pencemaran lingkungan, sekaligus membangun rantai ekonomi baru berbasis limbah.
Jika uji coba ini berhasil dan dapat diterapkan secara berkelanjutan, minyak jelantah yang selama ini dipandang sebagai limbah rumah tangga berpotensi menjadi bagian dari perjalanan Indonesia menuju energi yang lebih mandiri, rendah karbon dan berkelanjutan.


















