BITUNG | Persoalan ketersediaan air bersih di Kota Bitung, Sulawesi Utara, menjadi perhatian dalam forum diskusi publik bertajuk “Suara Publik, Solusi Bersama untuk Bitung” yang dilaksanakan di Monoland Coffee, Sabtu (12/9/2026). Diskusi tersebut mengangkat tema “Krisis Air Bersih: Pemerintah Beralasan atau Kesalahan Berpikir?” sebagai ruang dialog antara masyarakat, aktivis, dan pemangku kepentingan.
Forum yang berlangsung mulai pukul 15.00 hingga 18.00 WITA itu membahas berbagai persoalan terkait pelayanan dan ketersediaan air bersih yang selama ini masih menjadi keluhan sebagian warga. Diskusi juga menjadi wadah untuk menyampaikan kritik, saran, serta gagasan dalam mendorong perbaikan pelayanan air bersih di Kota Bitung.
Direktur Utama Perumda Air Minum Duasudara Kota Bitung, Alfred Salindeho, S.E., M.M., menyambut baik pelaksanaan diskusi tersebut. Menurutnya, masukan dari masyarakat, mahasiswa, aktivis, dan berbagai elemen lainnya menjadi bagian penting dalam evaluasi pelayanan, terutama dalam menghadapi risiko berkurangnya ketersediaan air saat musim kemarau.
Alfred menjelaskan, Perumda Air Minum Duasudara terus berupaya memenuhi kebutuhan masyarakat sesuai dengan kemampuan dan jangkauan pelayanan yang tersedia. Dalam menghadapi persoalan kebutuhan air bersih di wilayah yang belum terjangkau jaringan PDAM, pihaknya juga melakukan koordinasi dan dukungan operasional, termasuk melalui penyediaan mobil tangki.
Menurutnya, distribusi air bersih menggunakan mobil tangki dilakukan untuk membantu masyarakat di sejumlah kelurahan yang belum tercakup dalam pelayanan jaringan perpipaan. Langkah tersebut menjadi salah satu upaya penanganan kebutuhan air bersih, khususnya ketika masyarakat menghadapi keterbatasan pasokan.
Selain itu, Alfred mengatakan Perumda Air Minum Duasudara telah memiliki tim reaksi cepat untuk menangani berbagai laporan dan pengaduan masyarakat. Warga yang mengalami persoalan terkait pelayanan air bersih diharapkan dapat menyampaikan laporan melalui saluran pengaduan yang tersedia agar dapat segera ditindaklanjuti.
Sementara itu, Aktivis Kota Bitung, Muzakir Boven, menyampaikan sejumlah catatan dan harapan terkait peningkatan pelayanan air bersih. Ia menilai persoalan air bersih perlu menjadi perhatian bersama, termasuk dalam menyiapkan langkah dan kebijakan yang mampu meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, terutama di wilayah Kecamatan Lembeh Utara, Lembeh Selatan, serta sejumlah daerah lainnya.
Muzakir berharap diskusi publik tersebut tidak hanya menjadi ruang penyampaian kritik, tetapi juga menghasilkan masukan yang konstruktif bagi peningkatan pelayanan air bersih di Kota Bitung. Ia menegaskan bahwa ketersediaan air bersih merupakan kebutuhan mendasar masyarakat yang harus terus diupayakan pemenuhannya melalui kerja sama antara pemerintah, PDAM, dan seluruh elemen masyarakat.
Harto


















