MADIUN,pikiranrakyatnusantara.com-Puluhan hektare lahan persawahan di Desa Banaran, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun, kini menghadapi ancaman penurunan produktivitas hingga gagal panen. Para petani menduga kondisi tersebut berkaitan dengan pencemaran air irigasi yang berasal dari aktivitas cucian pasir di wilayah hulu.
Kondisi air irigasi yang biasanya menjadi sumber kehidupan bagi tanaman padi kini berubah keruh dan pekat. Aliran air disebut membawa material lumpur serta batu cadas yang kemudian mengendap di area persawahan.
Mewakili para petani Desa Banaran, Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Samsu Hadi menyampaikan keprihatinannya. Menurut dia, perubahan kualitas air tersebut telah memberikan dampak terhadap kondisi tanah dan pertumbuhan tanaman padi.
“Endapan limbah itu menutup pori-pori tanah persawahan, membuat tanah menjadi keras dan kehilangan kesuburannya. Hal ini sangat menghambat pertumbuhan tanaman padi, bahkan berpotensi memicu kegagalan panen sepenuhnya,” jelas Samsu.
Persoalan tersebut semakin dirasakan petani ketika musim kemarau. Ketersediaan air yang terbatas membuat kualitas air irigasi menjadi semakin penting bagi keberlangsungan tanaman.
Para petani mengaku kondisi tersebut turut memengaruhi produktivitas lahan. Hasil panen disebut mengalami penurunan dari tahun ke tahun, sementara biaya produksi dan kebutuhan pengelolaan lahan tetap harus ditanggung petani.
Di tengah keresahan tersebut, para petani meminta aktivitas usaha cucian pasir di wilayah hulu memperhatikan pengelolaan limbah serta memperbaiki Standar Operasional Prosedur (SOP). Mereka berharap tidak ada lagi pembuangan material limbah secara sembarangan ke aliran sungai yang dimanfaatkan untuk kebutuhan pertanian.
Petani juga meminta pemerintah tidak membiarkan persoalan tersebut berlarut-larut. Mereka berharap Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Madiun segera melakukan peninjauan dan pemeriksaan langsung ke lokasi untuk mengetahui kondisi kualitas air, endapan material di persawahan, serta sumber pencemar secara objektif.
Langkah pemeriksaan dinilai penting agar persoalan tidak berhenti pada keluhan masyarakat, melainkan dapat ditindaklanjuti berdasarkan fakta dan hasil kajian di lapangan.
Bagi petani Banaran, persoalan air irigasi bukan sekadar masalah lingkungan. Jika kualitas air terus menurun dan produktivitas sawah terdampak, keberlangsungan mata pencaharian warga pun ikut dipertaruhkan.
Kini, mereka menunggu langkah konkret pemerintah dan pihak-pihak terkait untuk memastikan sumber air pertanian kembali aman digunakan serta memberikan solusi yang adil dan berkelanjutan bagi para petani.
(Tim Redaksi)


















