banner 728x250

Berisiko Tinggi di Tengah Laut! Kilang Balongan Siapkan Pekerjaan Kritis SPM 165.000 DWT, EGM Tegaskan Keselamatan

banner 120x600
banner 468x60
Spread the love

Indramayu,pikiranrakyatnusantara.com-Kilang Pertamina Balongan bersiap melaksanakan pekerjaan teknis berisiko tinggi di tengah laut melalui program Change Over Single Point Mooring (SPM) 12,5 meter dengan SPM berkapasitas 165.000 DWT. Pekerjaan yang dijadwalkan berlangsung selama 12 hari pada Oktober 2026 ini menjadi bagian penting dalam menjaga keandalan fasilitas penerimaan minyak mentah untuk mendukung operasional kilang.

Pekerjaan tersebut bukan sekadar pergantian fasilitas, melainkan melibatkan serangkaian aktivitas teknis yang membutuhkan ketelitian, kesiapan personel, dan pengendalian risiko secara ketat. Tahapannya mencakup pemutusan dan penyambungan sistem tambat rantai jangkar (disconnecting and connecting), pembongkaran serta pemasangan kembali subsea hose atau floating hose, hingga pengujian kebocoran dan commissioning.

banner 325x300

Mengingat pekerjaan dilakukan di lingkungan lepas pantai (offshore) dengan beragam potensi bahaya, manajemen Kilang Pertamina Balongan memperkuat kesiapan teknis dan komitmen keselamatan sebelum pekerjaan dilaksanakan.

Salah satu langkah yang dilakukan ialah menggelar apel Safety Talk bersama kontraktor pelaksana, PT Pertamina Marine Engineering dan PT Kharisma Sinar Utama, pada Jumat (9/10/2026) di Area Jetty Propylene.

Dalam kegiatan tersebut, Group Head of Operation and Manufacturing (GHOM) Kilang Balongan menegaskan bahwa Single Point Mooring merupakan salah satu urat nadi utama dalam rantai pasok energi di Kilang RU Balongan.

Keandalan fasilitas ini sangat menentukan kelancaran penerimaan minyak mentah (crude oil) dari kapal tanker. Karena itu, setiap pekerjaan yang berkaitan dengan SPM harus dipersiapkan secara matang, dengan tetap mengutamakan keselamatan personel dan keandalan operasional.

“Pekerjaan di lepas pantai tingkat risikonya tinggi, mulai dari cuaca, gelombang air laut, pergerakan alat berat, hingga penyelaman bawah air. Saya tegaskan agar aspek HSSE wajib dipatuhi demi kesehatan dan keselamatan kerja tetap terjaga,” tegas GHOM.

EGM: Temukan Kondisi Tidak Aman, Pekerjaan Harus Dihentikan

Penegasan serupa disampaikan Executive General Manager (EGM) Kilang Balongan, Yulianto Triwibowo. Ia menempatkan keselamatan sebagai prioritas utama dalam setiap aktivitas operasional, terlebih pekerjaan yang memiliki tingkat risiko tinggi dan melibatkan berbagai pihak.

Yulianto meminta seluruh pekerja dan kontraktor menerapkan prinsip Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) secara konsisten. Ia juga menekankan pentingnya menjalankan Stop Work Authority (SWA) sebagai bagian dari budaya keselamatan kerja.

“Implementasikan elemen HSSE di lingkungan kerja, pahami dan jalankan secara konsisten program Stop Work Authority (SWA),” ujar Yulianto.

SWA merupakan kewenangan setiap pekerja maupun mitra kerja atau kontraktor untuk menghentikan pekerjaan ketika menemukan kondisi atau tindakan yang tidak aman, berpotensi menimbulkan kecelakaan, atau tidak sesuai prosedur.

Penerapan kewenangan tersebut diharapkan mendorong setiap personel untuk berani mengambil tindakan pencegahan tanpa menunggu terjadinya insiden. Keselamatan, menurut Yulianto, merupakan tanggung jawab bersama yang tidak dapat dikompromikan demi mengejar target pekerjaan.

“Kita semua sama, jika melihat kondisi tidak aman atau tidak sesuai prosedur, hentikan pekerjaan. Alat rusak bisa diganti, tapi jika nyawa melayang tidak akan bisa terganti,” ungkapnya.

Keseriusan manajemen dalam mengawal pekerjaan Change Over SPM 12,5 M dengan SPM 165.000 DWT turut diperkuat melalui penandatanganan komitmen bersama dalam apel Safety Talk.

Terdapat tiga poin utama yang disepakati, yakni mematuhi dan menerapkan kebijakan HSSE, menyukseskan pekerjaan dengan target zero fatality, on quality, on schedule, dan on budget, serta menjaga kondusivitas lingkungan kerja selama pelaksanaan kegiatan.

Komitmen tersebut menegaskan bahwa keberhasilan pekerjaan tidak hanya diukur dari penyelesaian sesuai jadwal, kualitas, dan anggaran, tetapi juga dari kemampuan seluruh pihak menjaga keselamatan manusia, lingkungan, aset, serta keberlangsungan operasional kilang.

Sebagai informasi, Single Point Mooring merupakan fasilitas tambat terapung di tengah laut yang digunakan untuk menambatkan kapal tanker dan mendukung penyaluran minyak mentah menuju kilang pengolahan melalui sistem perpipaan serta selang khusus.

Dengan peran strategis tersebut, kesiapan pelaksanaan Change Over SPM menjadi bagian penting dalam menjaga keandalan fasilitas penerimaan minyak mentah Kilang Pertamina Balongan. Disiplin terhadap prosedur, koordinasi antarpihak, dan penerapan HSSE diharapkan menjadi kunci agar pekerjaan berjalan aman, berkualitas, dan sesuai target.

banner 325x300
Penulis: Udin.s

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *