Indramayu,pikiranrakyatnusantara.com-Di tengah perjuangan menjalani hidup seorang diri setelah ditinggal wafat suaminya, Tri Wisada Wati (59), warga Blok Siwalan RT 12 RW 04, Desa Longok, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu, masih berusaha bertahan hidup dengan berjualan di sebuah warung angkringan sederhana di pinggir sungai, perbatasan Desa Tugu dan Desa Longok.
Di usianya yang tak lagi muda, perempuan tersebut harus memutar otak demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dengan keterbatasan modal dan penghasilan yang tidak menentu, ia mengaku belum pernah menerima bantuan dari Pemerintah Indramayu sejak suaminya meninggal dunia.
Saat ditemui awak media di warung angkringannya pada Senin (12/10/2026), Tri menceritakan bahwa usaha kecil yang dijalaninya saat ini berasal dari pinjaman bank mingguan sebesar Rp2 juta. Dari pinjaman tersebut, ia harus menyisihkan uang Rp50 ribu setiap minggu selama 50 minggu untuk membayar cicilan.
“Saya bertahan hidup dan berjualan di sini menggunakan modal pinjaman bank mingguan sebesar Rp2 juta. Setiap minggu saya harus menyetor Rp50 ribu selama 50 minggu,” tuturnya dengan nada lirih.
Menurut Tri, sejak suaminya meninggal dunia, ia kebingungan mencari jalan untuk melanjutkan hidup. Berjualan di warung kecil menjadi pilihan yang bisa ia lakukan, meskipun keuntungan yang diperoleh belum tentu cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya.
Sementara itu, rumah yang sebelumnya menjadi tempat tinggalnya telah diberikan kepada anak tunggalnya bersama sang istri. Kondisi tersebut membuat Tri harus berjuang sendiri menjalani hari-harinya, sembari berharap usaha kecilnya tetap bisa berjalan.
Yang membuat hatinya semakin bertanya-tanya, Tri mengaku belum pernah mendapatkan bantuan dari Pemerintah Indramayu,Ia mengatakan telah beberapa kali menyampaikan permohonan kepada sejumlah pamong desa, tetapi hingga kini belum memperoleh hasil sebagaimana yang diharapkannya.
“Entah apa yang bermasalah dengan saya. Saya juga ingin mendapatkan bantuan seperti warga lansia lainnya,” ungkap Tri.
Di balik kalimat sederhana itu, tersimpan harapan seorang perempuan yang ingin menjalani masa tuanya dengan lebih tenang. Ia tidak meminta kemewahan, melainkan perhatian dan kesempatan untuk memperoleh bantuan apabila memang memenuhi persyaratan yang berlaku.
Dengan penuh harap, Tri menyampaikan permohonan secara langsung kepada Kuwu Longok, Taridi, agar pemerintah Indramayu dapat melihat dan mempertimbangkan kondisi kehidupannya.
“Mohon saya kepada Bapak Kuwu Taridi, tolong bantu saya agar bisa mendapatkan bantuan seperti lansia yang lain dari pemerintah,” pungkasnya.
Harapan untuk Pemerintah Indramayu
Kisah Tri menjadi pengingat bahwa warga lanjut usia yang hidup dalam keterbatasan membutuhkan perhatian dan pendataan yang cermat. Pemerintah memiliki peran penting dalam memastikan warga yang membutuhkan memperoleh informasi, pendampingan, serta akses terhadap program bantuan sosial sesuai ketentuan.
Hingga berita ini disusun, keterangan dari Pemerintah Desa Longok, termasuk Kuwu Taridi, mengenai keluhan dan kondisi Tri Wisada Wati masih perlu dimintakan untuk memperoleh penjelasan berimbang.
Kini, harapan Tri sederhana,Semoga ada perhatian, kejelasan, dan jalan keluar agar ia dapat menjalani masa tuanya dengan lebih layak, tanpa harus terus bergantung pada pinjaman demi mempertahankan usaha kecilnya.
Sebab di balik sebuah warung sederhana di tepi sungai, ada perjuangan seorang perempuan lanjut usia yang masih berusaha berdiri di atas kakinya sendiri, sembari mengetuk pintu kepedulian pemerintah Indramayu.


















